Masjid Agung Al-Azhar Jakarta yang Bernilai Historis

Masjid Agung Al-Azhar Jakarta yang Bernilai Historis

Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat muslim sebenarnya memiliki berbagai macam fungsi. Selain untuk beribadah, Masjid juga difungsikan untuk tempat belajar mengajar, berkumpul, dan mengkaji sesuatu yang berkaitan dengan Islam serta sebagai tempat merayakan hari besar Islam. Sepeti halnya Masjid Agung Al-Azhar Jakarta ini.

Masjid Agung Al-AzharJakarta ini pembangunannya dimulai pada bulan November tahun 1953 dan diresmikan pada tahun 1958 awalnya dengan nama Masjid Agung Kebayoran. Masjid Agung ini terletak di atas tanah seluas kurang lebih 4,5 ha, di Jl. Sisingamangaraja (Kebayoran Baru), tanah inimerupakan pemberian Syamsurijal seorang walikota Jakarta pada tahun 1952. Dan pada tahun 1960, Syekh Mahmud Syaltut, yang merupakan rektor Universitas al-Azhar (Mesir), berkunjung ke Masjid Kebayoran ini dan memberikan nama al-Azhar sehingga mulai saat itu resmi menjadi Masjid Agung al-Azhar dan merestui pegangkatan Prof. Dr. HAMKA sebagai Imam Besar Masjid Agung al-Azhar Jakarta ini.

Pembangunan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta ini diprakarsai oleh Buya Hamka dan pembiayaannya hasil swadaya umat Islam di Jakarta. Tempat ini digunakan sebagai pusat kegiatan Yayasan Pendidikan Al-Azhar, memiliki sebuah sarana pendidikan bergengsi yang bernafaskan ajaran Islam. Para pendidik yang ada di Yayasan ini selain memperhatikan mutu pendidikan dan pengajaran umum, juga mengutamakan norma-norma agama Islam.

Bangunan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta ini mengadopsi arsitektur bergaya perpaduan antara arsitektur Masjid Hij’ di Saudi Arabia dengan arsitektur Masjid Qibtiyah di Mesir. Keberadaan Masjid agung ini dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan dakwah Islam di Jakarta. Di Masjid Agung Ini pula pernah dilakukan penggalangan kekuatan anti komunis dalam usaha kala itu menumpas PKI dan antek-anteknya pada tahun 1965-1966.

Leave a Reply